Sosial
Senin, 20 Mei 2013 - 12:43:55 | Rosalia Sandra / Sorot Gunungkidul

GUNUNGKIDUL UNDERCOVER 1: FENOMENA KIMCIL
GUNUNGKIDUL UNDERCOVER  1: FENOMENA KIMCILGUNUNGKIDUL UNDERCOVER  1: FENOMENA KIMCILilustrasi net

Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Gunungkidul undercover adalah liputan khusus sorotgunungkidul.com dalam upaya melihat sisi lain kehidupan diantara hingar-bingar pembangunan, diantara slogan-slogan pendidikan yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah. Dari sisi inilah kita akan melihat kejadian-kejadian atau fenomena yang mungkin mencengangkan bagi kita.

Dalam liputan ini, sorotgunungkidul.com tidak mempunyai maksud untuk mendiskreditkan pihak-pihak yang terkait dengan liputan kami. Liputan khusus ini hanyalah upaya untuk menampilkan realitas kehidupan yang nyata ada di antara masyarakat kita. Masalah nilai yang muncul terhadap realitas ini, kita serahkan sepenuhnya kepada masyarakat.

Penelusuran liputan khusus kali ini menguak sisi lain dari sosok kimcil (kimpetan cilik) yang dijalani oleh gadis-gadis belia umur belasan tahun. Kimcil adalah sebutan untuk gadis belia yang menjajakan tubuhnya untuk memperoleh uang. Secara umum mestinya mereka masih sibuk dengan buku pelajaran dan bukan gentayangan mencari mangsa pria hidung belang. Kalau siang mereka tekun belajar di kelas, namun sepulang sekolah sibuk bekerja menjajakan kenikmatan kepada setiap pria yang berani membayarnya. Tempat mangkalnya tidak pasti, kadang di sekitar kota. Kadangkala sudah kencanan lewat HP, tetapi jika ada tontonan semacam bersih desa Kimcil akan muncul disitu.

Aku adalah jurnalis yang ditugaskan redaksi secara khusus melakukan investigasi fenomena Kimcil ini. Saat aku mau melakukan liputan ini sebenarnya aku sempat meragu. Aku  adalah seorang perempuan yang akan menemui narasumber yang juga seorang perempuan dengan dunia kehidupan yang sungguh berbeda dengan dunia yang saat ini saya jalani. Dalam hati aku terus meragu. Bahkan ketika aku diantar oleh seorang teman yang menjadi perantara pertemuanku dengan seorang gadis belia yang katanya berprofesi sebagai Kimcil.

Selama perjalanan naik sepeda motor menuju tempat pertemuan yang sudah ditentukan, jantungku terus berdegup kencang. Disetiap hela nafasku, aku mencoba berdoa untuk memantapkan hatiku sendiri. “Ya Tuhan, kuatkan aku.”

Itulah doaku disepanjang perjalanan menuju sebuah jalan dipinggir lapangan di dalam kota Wonosari. Tiba-tiba temanku mengurangi laju sepeda motornya dan bilang "Nah itu orangnya !" Doaku ternyata tak juga mengurangi kencangnya detak jantungku. "Sudah ayo kita turun !" kata temanku. Saat aku ikut turun dan mengikuti jejak langkah temanku tersebut, langkah kakiku  terasa berat dan terseok-seok.

Ya Tuhan, benar seperti dugaanku. Aku dihadapkan dengan seorang gadis yang benar-benar 'luar biasa' menurutku. Seorang gadis belia dengan rokok ditangan, duduk berpangku tangan dengan sebotol minuman keras disebelahnya.

Ternyata di tengah kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul yang disebut-sebut sebagai daerah dengan tingkat angka kemiskinan tertinggi se-DIY dan dalam segi pendidikan mendapat peringkat terendah, kini masih ditambah lagi dengan munculnya fenomena gadis-gadis belia pemuas nafsu pria hidung belang yang biasa disebut kimcil.

Fenomena gadis-gadis cilik nan belia yang rela menukar keperawanan dan harga diri demi lembaran rupiah yang semakin lama ternyata kian menjamur di Gunungkidul. Aku sebagai sesama gadis merasa malu, terpukul, bahkan prihatin dengan penemuanku malam itu. Dengan alasan yang beragam, mereka menentukan pilihan untuk berkubang di dunia lembah hitam prostitusi terselubung.

Himpitan ekonomi di bawah angka kemiskinan, broken home, dan gaya hidup metropolis  adalah  alasan yang sering dilontarkan gadis-gadis belum cukup umur itu dalam menjalani profesi Kimcil tersebut.

Panggil saja Bunga (nama samaran), gadis ini masih berbalutkan seragam putih abu-abu. Bukan keinginan hati siswi salah satu SMA swasta di Wonosari, Gunungkidul ini untuk berkecimpung di kehidupan ekstrim ini.

Usianya masih 17 tahun, namun dia sudah menghabiskan sebagian waktunya untuk menjadi seorang Kimcil. Tubuhnya tak semlohai dan tak seberapa menarik serta kurang point untuk diminati para lelaki. Hanya memang modal wajahnya lumayan cantik dan berbalutkan penampilan nyentrik dan modis ala gadis masa kini, dia bisa laku menjalankan profesinya yang sudah digeluti selama dua tahun belakangan ini.

“Sejak saya lulus SMP saya mulai masuk dalam dunia seperti ini,” katanya sambil menenggak sebotol minuman keras yang katanya adalah anggur.

Himpitan ekonomi yang menekan keluarga, inilah yang menjadi alasan Bunga membenamkan diri di dunia kelam yang tidak lazim dijalani oleh gadis seusianya.

 “Bapak saya sudah tua dan sering sakit-sakitan, ibu tidak kerja, sedangkan saya dan adik saya yang satu masih sekolah kalau tidak ada yang kerja ya keluarga saya mau makan apa nanti? Saya dan adik saya sekolahnya gimana?” cerita lirih anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Dengan profesinya saat ini, Bunga mengaku bisa membiayai diri sendiri, sekolahnya dan sekolah adiknya.

“Ya selama ini saya tidak pernah menunggak biaya sekolah. Semua bisa teratasi dari hasil jerih payah saya selama ini,” ujar gadis dengan rambut lurus tergerai ini.

Bunga mengaku, kedua orang tuanya tidak tahu menahu dengan aktivitas yang selama ini dijalani putrinya.

“Kalau orang tua saya tanya kok tidak pernah minta bayaran SPP, jawaban saya karena saya dapat beasiswa dari sekolah. Dan karena dengan jawaban itu membuat mereka akan tenang. Kalau ditanya dapat uang dari mana untuk bayar uang sekolah adik dan ngasih sekedar uang ibu untuk kebutuhan belanja rumah, saya jawab kalau setiap pulang sekolah saya kerja di tempat teman saya entah itu nyapu atau ngepel kasarnya kaya pembantu. Kalau ditanya kenapa pulangnya malam saya jawab saja kalau saya mengerjakan tugas dan ada latihan nyanyi sama teman-teman,” paparnya dengan mata sedikit menerawang, nafasnya sedikit tersengal sembari menahan lelehan air mata membayangkan pahit getir kerasnya kehidupan yang mesti dihadapinya.

Disaat keluarganya menggunakan uang hasil keringat Bunga dengan penuh rasa bangga. Disisi lain batin Bunga menangis dan menjerit dengan pekerjaan yang harus ia jalani saat ini. Orang tua tidak tahu, saudaranya pun tidak tahu kalau sebenarnya Bunga bekerja dengan perasaan sakit dan hanya tumpahan tangis penyesalan yang bisa mewakili segala gundah perasaannya selama ini.

 

Berita Terkait :


20 Mei 2013 - 13:34:16 WIB

seperti itulah kehidupan di masyarakat
bagaimana, apa dan siapa yg harus bisa menjawab....yaa Tuhan berilah jalan rejeki yg halal untuk masa depan bangsa
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
dava3.jpg
HOT NEWS
rahma jaya.jpg